Memulai usaha agribisnis tidak selalu membutuhkan kebun luas, mesin mahal, atau modal puluhan juta rupiah. Banyak usaha justru dapat dimulai dari dapur rumah dengan memanfaatkan hasil pertanian yang mudah ditemukan di sekitar.
Persoalannya, banyak usaha rumahan dimulai dengan pertanyaan:
“Kira-kira butuh modal berapa?”
Lalu setelah berjualan muncul pertanyaan lain:
“Kok uang hasil jualan banyak, tetapi keuntungan tidak terasa?”
Salah satu penyebabnya adalah modal, biaya produksi, omzet, dan keuntungan masih dianggap sebagai hal yang sama. Padahal keempatnya berbeda.
Mari memahaminya melalui contoh sederhana dan membandingkannya dengan kasus nyata usaha rumah tangga keripik pisang di Indonesia.
Mengapa Kita Harus Menghitung Modal?
Bayangkan seseorang membeli pisang Rp200.000, minyak Rp150.000, dan kemasan Rp100.000.
Total belanja Rp450.000.
Setelah produk dijual, ia menerima uang Rp700.000.
Apakah keuntungannya otomatis Rp250.000?
Belum tentu.
Masih ada gas, listrik, bumbu, transportasi, tenaga kerja, penyusutan alat, produk gagal, biaya pemasaran, dan pengeluaran kecil lainnya.
Pengeluaran seperti inilah yang sering tidak tercatat.
Kajian terhadap UMKM di Indonesia juga menemukan bahwa salah satu kesalahan dalam menghitung harga pokok produksi adalah tidak memasukkan biaya overhead secara tepat. Akibatnya, biaya produksi terlihat lebih rendah daripada kondisi sebenarnya.
Contoh Kasus Nyata: Keripik Pisang Krenyess “Al_Banna”
Ada contoh menarik dari penelitian usaha agribisnis rumah tangga di Desa Batu Balian, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Penelitian tersebut mengkaji industri rumah tangga keripik pisang Krenyess merek “Al_Banna” selama Januari 2023.
Hasilnya cukup menarik.
Dalam satu bulan, total biaya usaha tercatat sebesar Rp9.190.151.
Penerimaan yang diperoleh mencapai Rp13.728.000.
Keuntungan usaha tercatat sebesar:
Rp13.728.000 − Rp9.190.151 = Rp4.537.849
Penelitian tersebut juga menemukan adanya nilai tambah dari proses pengolahan pisang menjadi keripik.
Kasus ini menunjukkan sesuatu yang penting.
Hasil pertanian yang diolah dapat mempunyai nilai ekonomi berbeda dibandingkan ketika hanya dijual sebagai bahan mentah.
Namun, jangan langsung menggunakan angka Rp9 juta tersebut sebagai patokan bahwa semua usaha keripik pisang membutuhkan modal sebesar itu. Skala produksi, harga bahan, tenaga kerja, peralatan, lokasi, dan kapasitas setiap usaha berbeda.
Untuk pemula, kita dapat membuat simulasi yang jauh lebih kecil.
Simulasi: Memulai Usaha Keripik Pisang dari Rumah
Misalkan seorang petani atau keluarga petani ingin mencoba menjual 100 bungkus keripik pisang.
Target awalnya sederhana: produksi kecil untuk dijual melalui WhatsApp, warung sekitar, Instagram, dan dititipkan di beberapa toko.
Angka berikut merupakan contoh simulasi, bukan harga pasar baku. Sesuaikan dengan harga bahan di daerah masing-masing.
1. Modal Peralatan
| Peralatan | Estimasi |
|---|---|
| Kompor | Rp350.000 |
| Wajan besar | Rp180.000 |
| Alat pengiris | Rp100.000 |
| Baskom & wadah | Rp100.000 |
| Timbangan digital | Rp100.000 |
| Sealer kemasan | Rp200.000 |
| Saringan dan perlengkapan lain | Rp120.000 |
| Total | Rp1.150.000 |
Kalau beberapa peralatan sudah tersedia di rumah, kebutuhan modal awal tentu bisa lebih kecil.
Peralatan ini juga tidak habis dalam sekali produksi. Kompor atau sealer dapat digunakan berkali-kali.
2. Hitung Biaya untuk Satu Kali Produksi
Sekarang kita hitung biaya menghasilkan 100 bungkus.
| Kebutuhan | Biaya Simulasi |
|---|---|
| Pisang | Rp300.000 |
| Minyak goreng | Rp250.000 |
| Bumbu | Rp75.000 |
| Gas | Rp50.000 |
| Kemasan 100 pcs | Rp150.000 |
| Label/stiker | Rp50.000 |
| Listrik & air | Rp25.000 |
| Transportasi | Rp50.000 |
| Tenaga kerja | Rp150.000 |
| Alokasi penyusutan/perawatan alat | Rp50.000 |
| Total biaya produksi | Rp1.100.000 |
Ada satu hal yang sering dilupakan usaha keluarga: tenaga kerja sendiri tetap mempunyai nilai.
Jangan menganggap tenaga kita gratis hanya karena produk dibuat sendiri di rumah.
Kalau tidak dihitung, usaha seolah-olah menghasilkan keuntungan besar, padahal sebagian keuntungan tersebut sebenarnya merupakan upah kerja kita sendiri.
3. Berapa HPP Satu Bungkus?
Sekarang perhitungannya menjadi mudah.
HPP = Total biaya produksi ÷ jumlah produk
Maka:
Rp1.100.000 ÷ 100 = Rp11.000/bungkus
Artinya, secara sederhana biaya untuk menghasilkan satu bungkus keripik adalah sekitar Rp11.000.
Konsep tersebut sejalan dengan perhitungan HPP sederhana untuk UMKM: total biaya produksi dibagi jumlah produk yang dihasilkan.
Jadi kalau dijual Rp10.000 karena melihat pesaing menjual dengan harga tersebut?
Kita justru berpotensi rugi.
Inilah alasan harga jual jangan ditentukan hanya dengan melihat harga produk tetangga.
4. Menentukan Harga Jual
Misalkan produsen menginginkan margin sederhana sekitar 30% atas HPP.
Perhitungannya:
30% × Rp11.000 = Rp3.300
Sehingga:
Rp11.000 + Rp3.300 = Rp14.300
Untuk memudahkan transaksi, produsen misalnya menentukan harga jual:
Rp15.000/bungkus
Jika 100 bungkus terjual seluruhnya:
100 × Rp15.000 = Rp1.500.000 omzet
Kurangi biaya produksi:
Rp1.500.000 − Rp1.100.000 = Rp400.000
Maka keuntungan sederhana dari satu siklus produksi tersebut sekitar:
Rp400.000
Perlu diperhatikan bahwa keuntungan nyata bisa berbeda jika ada produk tidak terjual, retur, diskon, ongkos pemasaran tambahan, pajak, atau biaya lain.
Modal, Omzet dan Keuntungan Itu Berbeda
Ini bagian yang penting untuk dipahami pelaku usaha pemula.
Dari contoh tadi:
Modal/peralatan awal: Rp1.150.000
Biaya satu siklus produksi: Rp1.100.000
Omzet jika habis terjual: Rp1.500.000
Laba sederhana: Rp400.000
Jadi ketika uang penjualan yang masuk Rp1,5 juta, jangan menganggap seluruh Rp1,5 juta sebagai keuntungan.
Sebagian uang tersebut harus digunakan kembali untuk membeli pisang, minyak, kemasan, gas, membayar tenaga kerja, dan membiayai produksi berikutnya.
Kesalahan mengambil seluruh omzet untuk kebutuhan pribadi bisa membuat usaha yang sebenarnya laris justru kekurangan modal.
Bagaimana Kalau Produknya Tidak Habis?
Sekarang kita masuk ke kondisi yang lebih realistis.
Produksi 100 bungkus, tetapi yang terjual hanya 70 bungkus.
Dengan harga Rp15.000:
70 × Rp15.000 = Rp1.050.000
Sementara dalam simulasi kita sudah mengeluarkan biaya produksi Rp1.100.000.
Arus kas dari penjualan yang sudah terjadi berarti belum menutup seluruh biaya produksi, sementara masih terdapat 30 bungkus persediaan.
Karena itu, sebelum meningkatkan produksi dari 100 menjadi 500 bungkus, pastikan dahulu pasarnya benar-benar ada.
Produksi besar bukan selalu berarti keuntungan besar.
Produk yang tidak terjual adalah uang yang masih tertahan dalam persediaan—dan untuk produk pangan, ada pula risiko masa simpan.
Jangan Lupa Biaya yang “Tidak Kelihatan”
Sebuah studi kasus pada UMKM Donat X menunjukkan bagaimana HPP dapat terlihat lebih rendah ketika biaya tenaga kerja langsung tidak dimasukkan. Setelah seluruh elemen biaya diperhitungkan dengan pendekatan full costing, HPP menjadi lebih tinggi tetapi lebih mencerminkan biaya produksi sebenarnya.
Pemerintah Daerah DIY juga menjelaskan pendekatan full costing dengan memasukkan bahan baku, tenaga kerja langsung, biaya overhead variabel, dan overhead tetap seperti penyusutan peralatan.
Untuk usaha agribisnis rumahan, biaya yang sering terlupakan antara lain gas, listrik, air, bensin mengambil bahan, ongkos mengantar pesanan, stiker, kemasan rusak, produk gagal, biaya admin marketplace, promosi, penyusutan peralatan, serta tenaga kerja keluarga.
Nilainya mungkin terlihat kecil satu per satu.
Tetapi kalau dikumpulkan selama satu bulan, jumlahnya bisa cukup besar.
Bagaimana Kalau Bahan Bakunya dari Kebun Sendiri?
Ini juga sering menjadi kesalahan.
Misalnya pisang berasal dari kebun sendiri.
Kemudian pemilik usaha mencatat:
Biaya pisang = Rp0
Cara berpikir tersebut bisa membuat analisis usaha menyesatkan.
Pisang dari kebun sendiri tetap mempunyai nilai ekonomi, karena sebenarnya pisang tersebut memiliki alternatif untuk dijual sebagai buah segar.
Misalnya 30 kg pisang dapat dijual Rp300.000.
Ketika pisang tersebut digunakan sebagai bahan keripik, ada nilai bahan baku yang dialihkan dari penjualan segar ke usaha pengolahan.
Pencatatan seperti ini membantu kita menjawab pertanyaan penting:
Lebih menguntungkan menjual pisang segar atau mengolahnya menjadi keripik?
Barulah nilai tambah pengolahan dapat terlihat lebih jelas.
Belajar dari Kasus Keripik Pisang Al_Banna
Kembali pada kasus nyata industri rumah tangga keripik pisang Al_Banna.
Biaya usaha satu bulan mencapai Rp9,19 juta, sementara penerimaannya sekitar Rp13,73 juta dan keuntungannya sekitar Rp4,54 juta. Penelitian juga menghitung nilai tambah pengolahan sebesar Rp11.491/kg.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan hasil pertanian memang dapat menciptakan nilai tambah.
Tetapi keuntungan tidak muncul hanya karena pisang diubah menjadi keripik.
Ada proses produksi, tenaga kerja, bahan tambahan, pengemasan, pemasaran dan biaya lainnya yang harus dikelola.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Berapa harga jual keripik?”
Melainkan:
“Berapa sebenarnya biaya menghasilkan satu bungkus keripik?”
Dari situlah harga jual mulai ditentukan.
Tidak Harus Keripik Pisang
Cara menghitung sederhana tadi dapat digunakan untuk berbagai usaha agribisnis rumahan.
Contohnya:
Cabai → sambal kemasan
Singkong → keripik
Pisang → sale atau keripik
Tomat → saus
Stroberi → selai
Kopi → roasted bean atau kopi bubuk
Kelapa → VCO atau minyak kelapa
Jagung → makanan ringan
Ubi → keripik atau tepung
Yang berubah hanyalah bahan baku, proses, peralatan, kapasitas, dan pasarnya.
Prinsip perhitungannya tetap sama:
Hitung semua biaya → hitung jumlah produk → tentukan HPP → tentukan harga jual → catat penjualan → evaluasi keuntungan.
Mulai dari 50 Bungkus Juga Tidak Masalah
Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah ingin langsung terlihat sebagai usaha besar.
Padahal untuk tahap awal, produksi kecil justru memberikan kesempatan untuk belajar.
Misalnya mulai dari 50 bungkus.
Jual kepada tetangga, teman, warung, atau melalui media sosial. Catat produk mana yang paling disukai dan berapa lama stok habis.
Setelah itu evaluasi.
Apakah rasanya sudah konsisten?
Apakah kemasannya cukup baik?
Apakah Rp15.000 dianggap terlalu mahal?
Berapa pelanggan yang membeli kembali?
Berapa produk yang tersisa?
Informasi tersebut jauh lebih berharga daripada langsung memproduksi 1.000 bungkus tanpa mengetahui siapa pembelinya.
Buat Catatan Usaha Sesederhana Mungkin
Tidak harus menggunakan aplikasi akuntansi.
Buku tulis pun cukup untuk memulai.
Buat empat bagian:
Uang Masuk | Uang Keluar | Stok | Keuntungan
Contohnya:
| Tanggal | Keterangan | Masuk | Keluar |
|---|---|---|---|
| 1 Okt | Beli pisang | – | Rp300.000 |
| 1 Okt | Minyak & bumbu | – | Rp325.000 |
| 2 Okt | Kemasan | – | Rp200.000 |
| 3 Okt | Penjualan 20 bungkus | Rp300.000 | – |
| 4 Okt | Penjualan 30 bungkus | Rp450.000 | – |
Pada akhir minggu, jumlahkan semuanya.
Kebiasaan sederhana tersebut membuat pemilik usaha mengetahui ke mana uang bergerak.
Kapan Usaha Bisa Dikatakan Layak Dikembangkan?
Jangan hanya melihat satu kali produksi.
Cobalah beberapa siklus terlebih dahulu.
Perhatikan apakah produk terus menghasilkan margin yang memadai, pembeli melakukan pemesanan ulang, kapasitas produksi masih dapat ditingkatkan, bahan baku tersedia, dan arus kas tidak terganggu.
Kalau setiap produksi menghasilkan keuntungan tetapi produk membutuhkan waktu dua bulan untuk habis, mungkin persoalannya ada pada pasar.
Kalau produk cepat habis tetapi keuntungan sangat tipis, mungkin harga atau biaya produksi perlu diperbaiki.
Kalau permintaan tinggi tetapi produksi tidak mampu mengejar, barulah investasi alat yang lebih besar mulai masuk akal.
Investasi sebaiknya mengikuti kebutuhan usaha, bukan sebaliknya.
Rumus Sederhana yang Perlu Diingat
Untuk usaha rumahan, kita dapat memulai dengan tiga perhitungan dasar:
HPP per produk = Total biaya produksi ÷ jumlah produk
Omzet = Jumlah produk terjual × harga jual
Laba sederhana = Pendapatan penjualan − biaya yang terkait
Untuk pengelolaan yang lebih serius, pencatatan kemudian dapat dikembangkan dengan memisahkan biaya tetap, biaya variabel, biaya pemasaran, persediaan, penyusutan aset, dan arus kas.
Dari Dapur Rumah Bisa Menjadi Usaha
Kasus nyata keripik pisang tadi memperlihatkan bahwa pengolahan hasil pertanian skala rumah tangga dapat menghasilkan nilai tambah. Namun keberhasilan usaha bukan hanya persoalan membuat produk yang enak.
Pelaku usaha harus mengetahui berapa biaya sebenarnya, berapa harga yang layak, berapa produk yang mampu dijual, dan berapa keuntungan yang benar-benar tersisa.
Tidak masalah memulai dari 20, 50, atau 100 bungkus.
Yang lebih penting adalah setiap produksi memberikan informasi untuk membuat usaha berikutnya menjadi lebih baik.
Usaha yang sehat bukan usaha yang sekadar ramai pesanan, tetapi usaha yang tahu berapa uang yang masuk, berapa biaya yang keluar, dan berapa keuntungan yang benar-benar tersisa.
PetaniPintar.id – Teman Pintar Petani
Referensi
Contoh kasus utama artikel ini berasal dari penelitian Rahmadanti dkk. mengenai industri rumah tangga keripik pisang Krenyess “Al_Banna” di Kabupaten Banjar. Penelitian tersebut melaporkan biaya total Rp9.190.151, penerimaan Rp13.728.000, dan keuntungan Rp4.537.849 selama periode analisis Januari 2023.
