PetaniPintar.id – Teman Pintar Petani
Ketika melihat hamparan jagung, kedelai, gandum, padi, atau tanaman umbi-umbian, kita mungkin berpikir sebagian besar hasil panennya akan berakhir di meja makan manusia.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Komoditas pertanian dunia mempunyai banyak fungsi. Selain menjadi pangan manusia, hasil pertanian digunakan sebagai pakan ternak, bahan baku industri, minyak nabati, bioenergi, hingga berbagai produk olahan.
Inilah mengapa sejumlah komoditas dikenal sebagai multi-purpose commodities atau sering dibahas sebagai flex crops— komoditas yang penggunaannya dapat diarahkan ke beberapa kebutuhan sekaligus.
Dari Sawah dan Ladang, Hasil Panen Pergi ke Mana?
Data yang dirangkum dalam Meat Atlas 2021 memperlihatkan pola menarik pada sejumlah tanaman penting dunia seperti jagung, tanaman penghasil minyak, gandum, padi, kacang-kacangan, serta tanaman akar dan umbi.
Sekitar 40% produksi kelompok tanaman utama tersebut digunakan secara langsung sebagai pangan manusia, sementara lebih dari sepertiganya digunakan untuk pakan ternak. Sisanya masuk ke berbagai penggunaan lain, termasuk industri dan energi.
Angka ini memberi gambaran bahwa produksi pertanian dunia sebenarnya melayani rantai yang jauh lebih panjang daripada sekadar:
Petani → panen → makanan manusia.
Dalam praktiknya bisa menjadi:
Petani → jagung → pakan ayam → daging/telur → konsumen.
Atau:
Petani → kedelai → pakan ternak → produk peternakan.
Bahkan dapat berupa:
Petani → tanaman penghasil minyak → pengolahan → pangan/industri/bioenergi.
Karena itu, ketika berbicara mengenai ketahanan pangan, kita juga perlu melihat untuk apa hasil pertanian tersebut digunakan.
1. Jagung: Salah Satu Komoditas Paling Fleksibel
Jagung merupakan contoh yang sangat mudah ditemukan.
Bagi manusia, jagung dapat dikonsumsi sebagai jagung segar, tepung, pati, makanan ringan dan berbagai produk olahan.
Namun penggunaan jagung jauh lebih luas.
Jagung merupakan bahan penting dalam industri pakan ternak. Di beberapa negara, jagung juga menjadi bahan baku produksi etanol serta berbagai produk industri.
Artinya, satu komoditas yang sama dapat diperebutkan oleh beberapa pasar.
Bagi petani, kondisi tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang. Petani jagung tidak harus melihat pasar hanya sebagai pasar pangan. Ada industri pakan, peternakan, pengolahan, dan berbagai industri turunannya.
2. Kedelai: Protein untuk Manusia dan Ternak
Kedelai mempunyai cerita yang sedikit berbeda.
Di Indonesia, kedelai sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena menjadi bahan baku tempe, tahu, kecap, susu kedelai, dan berbagai produk pangan.
Namun dalam sistem pertanian global, kedelai juga mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan peternakan.
Setelah kedelai diproses untuk menghasilkan minyak, bungkil kedelai yang kaya protein menjadi bahan penting dalam formulasi pakan ternak.
Inilah salah satu alasan permintaan kedelai dunia sangat berkaitan dengan perkembangan industri peternakan.
Semakin besar kebutuhan daging, telur, dan produk peternakan, kebutuhan terhadap bahan pakan berprotein juga dapat ikut meningkat.
3. Gandum: Dominan sebagai Pangan, tetapi Tidak Hanya untuk Manusia
Gandum merupakan bahan utama berbagai makanan seperti roti, mi, pasta, biskuit dan tepung.
Karena itu, dibandingkan beberapa komoditas lainnya, penggunaan gandum sebagai pangan manusia sangat besar.
Namun sebagian produksi gandum juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan industri.
Ini memperlihatkan bahwa batas antara tanaman pangan dan tanaman pakan sebenarnya tidak selalu kaku.
Sebuah tanaman dapat mempunyai beberapa jalur penggunaan sekaligus.
4. Padi: Lebih Dekat dengan Konsumsi Langsung
Untuk masyarakat Indonesia, padi mungkin menjadi contoh yang paling mudah dipahami.
Sebagian besar beras memang diarahkan untuk konsumsi manusia.
Tetapi sistem padi menghasilkan lebih dari sekadar beras.
Ada dedak, bekatul, sekam dan jerami.
Produk samping tersebut masih dapat mempunyai nilai ekonomi. Dedak dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Sekam dapat dikembangkan untuk energi atau bahan lainnya, sementara jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan, bahan organik, kompos atau kebutuhan pertanian lainnya.
Jadi sebenarnya satu hektare sawah menghasilkan lebih dari satu jenis sumber daya.
Petani yang mampu melihat nilai produk samping mempunyai peluang memperoleh manfaat ekonomi tambahan dari hasil produksinya.
5. Tanaman Minyak: Dari Dapur sampai Energi
Kelapa sawit, kedelai, rapeseed/canola dan bunga matahari merupakan beberapa contoh tanaman penghasil minyak.
Minyak yang dihasilkan dapat masuk ke industri pangan.
Namun sebagian komoditas minyak juga dapat digunakan untuk kosmetik, oleokimia, sabun, bahan industri hingga biofuel.
Indonesia mempunyai posisi penting dalam pembicaraan ini karena merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia.
Bagi sektor pertanian, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah komoditas dapat membentuk ekosistem ekonomi yang sangat panjang:
kebun → pengolahan → pangan → industri → energi → ekspor.
6. Umbi-umbian Juga Jangan Diremehkan
Singkong, ubi jalar dan berbagai tanaman umbi sering dianggap sebagai komoditas sederhana.
Padahal potensinya besar.
Singkong, misalnya, dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi tepung tapioka, makanan ringan, bahan fermentasi, pakan, pati industri hingga bahan baku bioetanol.
Inilah contoh nyata konsep komoditas serbaguna.
Nilai tanaman tidak hanya ditentukan oleh berapa kilogram yang dipanen, tetapi juga oleh berapa banyak produk yang dapat dikembangkan dari hasil panen tersebut.
Mengapa Banyak Tanaman Digunakan untuk Pakan?
Sekilas mungkin muncul pertanyaan:
Mengapa tanaman tidak langsung diberikan kepada manusia saja?
Jawabannya berkaitan dengan struktur sistem pangan.
Manusia juga mengonsumsi daging, susu dan telur. Untuk menghasilkan produk tersebut, ternak membutuhkan pakan.
Jagung dan bungkil kedelai menjadi dua bahan yang banyak digunakan karena menyediakan energi dan protein yang dibutuhkan ternak.
Karena itu, sebenarnya terdapat hubungan:
Tanaman → Pakan → Ternak → Pangan Manusia
Semakin panjang rantainya, semakin banyak pula faktor yang harus diperhitungkan, mulai dari penggunaan lahan, air dan energi hingga efisiensi produksi.
Lalu, Apakah Penggunaan Tanaman untuk Pakan Itu Buruk?
Tidak tepat jika persoalannya disederhanakan menjadi baik atau buruk.
Sistem peternakan juga menghasilkan pangan bernilai gizi, menyediakan mata pencaharian, serta dapat memanfaatkan biomassa dan hasil samping yang tidak selalu dapat dikonsumsi manusia.
Namun proporsi tanaman yang masuk ke pakan tetap penting diperhatikan ketika membahas ketahanan pangan dan keberlanjutan sistem pertanian dunia.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak pangan yang kita produksi?”
Tetapi juga:
“Ke mana hasil produksi itu digunakan dan seberapa efisien sumber daya yang kita gunakan?”
Pelajaran untuk Petani Indonesia
Konsep multi-purpose commodities sebenarnya sangat relevan bagi petani Indonesia.
Petani tidak harus melihat hasil panen hanya sebagai satu produk.
Misalnya:
Jagung
→ jagung segar
→ pipilan kering
→ pakan
→ tepung
→ produk olahan
Kelapa
→ kelapa segar
→ santan
→ minyak kelapa
→ VCO
→ gula kelapa
→ produk turunan sabut dan tempurung
Singkong
→ singkong segar
→ keripik
→ tapioka
→ pakan
→ bahan industri
Padi
→ beras
→ dedak
→ sekam
→ jerami
→ kompos/bahan organik
Dengan cara berpikir seperti ini, pertanyaan petani berubah dari:
“Berapa harga hasil panen saya?”
menjadi:
“Pasar mana yang memberikan nilai terbaik untuk hasil panen saya?”
Dan itu merupakan perubahan penting dalam cara melihat agribisnis.
Budidaya Sebaiknya Dimulai dari Pasar
Selama ini sebagian usaha tani menggunakan pola:
tanam dahulu → panen → baru mencari pembeli.
Pendekatan agribisnis yang lebih baik adalah mulai membaca pasar sebelum menentukan produksi.
Jika jagung akan masuk industri pakan, misalnya, standar yang dibutuhkan dapat berbeda dengan jagung untuk konsumsi segar.
Begitu pula singkong untuk industri pati dapat memiliki kebutuhan berbeda dengan singkong untuk konsumsi rumah tangga.
Karena itu, sebelum budidaya skala komersial, petani perlu mengetahui setidaknya siapa calon pembeli, varietas yang dibutuhkan, standar mutu, volume permintaan, jadwal pasokan, harga atau mekanisme penentuan harga, serta biaya pengiriman.
Dengan begitu, keputusan budidaya tidak hanya didasarkan pada kebiasaan.
Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Meningkatkan Produksi
Data penggunaan komoditas dunia memberikan pelajaran penting.
Meningkatkan produksi memang penting. Tetapi produksi yang besar belum otomatis menjawab seluruh persoalan pangan.
Kita juga harus memperhatikan distribusi, kehilangan hasil, penggunaan sebagai pakan, pemanfaatan untuk energi dan industri, akses masyarakat terhadap pangan, serta pendapatan petani.
Bahkan dalam satu komoditas, perubahan harga dapat memengaruhi banyak sektor sekaligus.
Ketika harga jagung berubah, dampaknya tidak hanya dirasakan petani jagung. Industri pakan dapat terkena dampak, kemudian peternak ayam, lalu biaya produksi telur dan daging.
Pertanian ternyata saling terhubung.
Dari “Tanaman Pangan” Menuju “Komoditas Bernilai”
Bagi petani, salah satu pelajaran terbesar dari sistem pertanian dunia adalah jangan terlalu cepat membatasi sebuah tanaman berdasarkan satu kegunaan.
Hasil pertanian dapat mempunyai banyak jalan menuju pasar.
Sebagian menjadi makanan manusia.
Sebagian menjadi pakan.
Sebagian diolah.
Sebagian menjadi bahan industri.
Sebagian bahkan menjadi sumber energi.
Semakin baik petani memahami rantai tersebut, semakin besar peluang untuk menentukan apa yang ditanam, untuk siapa produksinya, bagaimana standar mutunya, dan di mana nilai tambah dapat diperoleh.
Pertanian modern bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak. Pertanian juga tentang memahami ke mana hasil panen pergi dan bagaimana setiap bagian dari hasil tersebut dapat memberikan nilai.
PetaniPintar.id – Teman Pintar Petani
Catatan sumber
Gagasan utama mengenai pembagian penggunaan komoditas pangan/pakan dalam artikel ini mengacu pada grafik “Major agricultural flex crops by production and use, average 2017–19” dalam Meat Atlas 2021 yang diterbitkan Heinrich Böll Stiftung bersama Friends of the Earth Europe dan BUND. Angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai gambaran penggunaan kelompok komoditas utama yang dianalisis, bukan berarti tepat 40% dari seluruh hasil pertanian dunia tanpa pengecualian.
