{"id":79,"date":"2026-07-06T20:30:57","date_gmt":"2026-07-06T20:30:57","guid":{"rendered":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79"},"modified":"2026-09-06T22:28:54","modified_gmt":"2026-09-06T22:28:54","slug":"praktis-budidaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79","title":{"rendered":"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia"},"content":{"rendered":"<p><strong>PetaniPintar.id \u2013 Teman Pintar Petani<\/strong><\/p>\n<p>Ketika melihat hamparan jagung, kedelai, gandum, padi, atau tanaman umbi-umbian, kita mungkin berpikir sebagian besar hasil panennya akan berakhir di meja makan manusia.<\/p>\n<p>Kenyataannya tidak sesederhana itu.<\/p>\n<p>Komoditas pertanian dunia mempunyai banyak fungsi. Selain menjadi pangan manusia, hasil pertanian digunakan sebagai <strong>pakan ternak, bahan baku industri, minyak nabati, bioenergi<\/strong>, hingga berbagai produk olahan.<\/p>\n<p>Inilah mengapa sejumlah komoditas dikenal sebagai <strong>multi-purpose commodities<\/strong> atau sering dibahas sebagai <em>flex crops<\/em>\u2014 komoditas yang penggunaannya dapat diarahkan ke beberapa kebutuhan sekaligus.<\/p>\n<h2>Dari Sawah dan Ladang, Hasil Panen Pergi ke Mana?<\/h2>\n<p>Data yang dirangkum dalam <em>Meat Atlas 2021<\/em> memperlihatkan pola menarik pada sejumlah tanaman penting dunia seperti <strong>jagung, tanaman penghasil minyak, gandum, padi, kacang-kacangan, serta tanaman akar dan umbi<\/strong>.<\/p>\n<p>Sekitar <strong>40% produksi kelompok tanaman utama tersebut digunakan secara langsung sebagai pangan manusia<\/strong>, sementara lebih dari sepertiganya digunakan untuk pakan ternak. Sisanya masuk ke berbagai penggunaan lain, termasuk industri dan energi.<\/p>\n<p>Angka ini memberi gambaran bahwa produksi pertanian dunia sebenarnya melayani rantai yang jauh lebih panjang daripada sekadar:<\/p>\n<p><strong>Petani \u2192 panen \u2192 makanan manusia.<\/strong><\/p>\n<p>Dalam praktiknya bisa menjadi:<\/p>\n<p><strong>Petani \u2192 jagung \u2192 pakan ayam \u2192 daging\/telur \u2192 konsumen.<\/strong><\/p>\n<p>Atau:<\/p>\n<p><strong>Petani \u2192 kedelai \u2192 pakan ternak \u2192 produk peternakan.<\/strong><\/p>\n<p>Bahkan dapat berupa:<\/p>\n<p><strong>Petani \u2192 tanaman penghasil minyak \u2192 pengolahan \u2192 pangan\/industri\/bioenergi.<\/strong><\/p>\n<p>Karena itu, ketika berbicara mengenai ketahanan pangan, kita juga perlu melihat <strong>untuk apa hasil pertanian tersebut digunakan<\/strong>.<\/p>\n<h2>1. Jagung: Salah Satu Komoditas Paling Fleksibel<\/h2>\n<p>Jagung merupakan contoh yang sangat mudah ditemukan.<\/p>\n<p>Bagi manusia, jagung dapat dikonsumsi sebagai jagung segar, tepung, pati, makanan ringan dan berbagai produk olahan.<\/p>\n<p>Namun penggunaan jagung jauh lebih luas.<\/p>\n<p>Jagung merupakan bahan penting dalam industri pakan ternak. Di beberapa negara, jagung juga menjadi bahan baku produksi etanol serta berbagai produk industri.<\/p>\n<p>Artinya, satu komoditas yang sama dapat diperebutkan oleh beberapa pasar.<\/p>\n<p>Bagi petani, kondisi tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang. Petani jagung tidak harus melihat pasar hanya sebagai pasar pangan. Ada industri pakan, peternakan, pengolahan, dan berbagai industri turunannya.<\/p>\n<h2>2. Kedelai: Protein untuk Manusia dan Ternak<\/h2>\n<p>Kedelai mempunyai cerita yang sedikit berbeda.<\/p>\n<p>Di Indonesia, kedelai sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena menjadi bahan baku <strong>tempe, tahu, kecap, susu kedelai<\/strong>, dan berbagai produk pangan.<\/p>\n<p>Namun dalam sistem pertanian global, kedelai juga mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan peternakan.<\/p>\n<p>Setelah kedelai diproses untuk menghasilkan minyak, bungkil kedelai yang kaya protein menjadi bahan penting dalam formulasi pakan ternak.<\/p>\n<p>Inilah salah satu alasan permintaan kedelai dunia sangat berkaitan dengan perkembangan industri peternakan.<\/p>\n<p>Semakin besar kebutuhan daging, telur, dan produk peternakan, kebutuhan terhadap bahan pakan berprotein juga dapat ikut meningkat.<\/p>\n<h2>3. Gandum: Dominan sebagai Pangan, tetapi Tidak Hanya untuk Manusia<\/h2>\n<p>Gandum merupakan bahan utama berbagai makanan seperti roti, mi, pasta, biskuit dan tepung.<\/p>\n<p>Karena itu, dibandingkan beberapa komoditas lainnya, penggunaan gandum sebagai pangan manusia sangat besar.<\/p>\n<p>Namun sebagian produksi gandum juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan industri.<\/p>\n<p>Ini memperlihatkan bahwa batas antara <strong>tanaman pangan<\/strong> dan <strong>tanaman pakan<\/strong> sebenarnya tidak selalu kaku.<\/p>\n<p>Sebuah tanaman dapat mempunyai beberapa jalur penggunaan sekaligus.<\/p>\n<h2>4. Padi: Lebih Dekat dengan Konsumsi Langsung<\/h2>\n<p>Untuk masyarakat Indonesia, padi mungkin menjadi contoh yang paling mudah dipahami.<\/p>\n<p>Sebagian besar beras memang diarahkan untuk konsumsi manusia.<\/p>\n<p>Tetapi sistem padi menghasilkan lebih dari sekadar beras.<\/p>\n<p>Ada dedak, bekatul, sekam dan jerami.<\/p>\n<p>Produk samping tersebut masih dapat mempunyai nilai ekonomi. Dedak dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Sekam dapat dikembangkan untuk energi atau bahan lainnya, sementara jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan, bahan organik, kompos atau kebutuhan pertanian lainnya.<\/p>\n<p>Jadi sebenarnya satu hektare sawah menghasilkan <strong>lebih dari satu jenis sumber daya<\/strong>.<\/p>\n<p>Petani yang mampu melihat nilai produk samping mempunyai peluang memperoleh manfaat ekonomi tambahan dari hasil produksinya.<\/p>\n<h2>5. Tanaman Minyak: Dari Dapur sampai Energi<\/h2>\n<p>Kelapa sawit, kedelai, rapeseed\/canola dan bunga matahari merupakan beberapa contoh tanaman penghasil minyak.<\/p>\n<p>Minyak yang dihasilkan dapat masuk ke industri pangan.<\/p>\n<p>Namun sebagian komoditas minyak juga dapat digunakan untuk kosmetik, oleokimia, sabun, bahan industri hingga biofuel.<\/p>\n<p>Indonesia mempunyai posisi penting dalam pembicaraan ini karena merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia.<\/p>\n<p>Bagi sektor pertanian, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah komoditas dapat membentuk ekosistem ekonomi yang sangat panjang:<\/p>\n<p><strong>kebun \u2192 pengolahan \u2192 pangan \u2192 industri \u2192 energi \u2192 ekspor.<\/strong><\/p>\n<h2>6. Umbi-umbian Juga Jangan Diremehkan<\/h2>\n<p>Singkong, ubi jalar dan berbagai tanaman umbi sering dianggap sebagai komoditas sederhana.<\/p>\n<p>Padahal potensinya besar.<\/p>\n<p>Singkong, misalnya, dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi tepung tapioka, makanan ringan, bahan fermentasi, pakan, pati industri hingga bahan baku bioetanol.<\/p>\n<p>Inilah contoh nyata konsep komoditas serbaguna.<\/p>\n<p>Nilai tanaman tidak hanya ditentukan oleh <strong>berapa kilogram yang dipanen<\/strong>, tetapi juga oleh <strong>berapa banyak produk yang dapat dikembangkan dari hasil panen tersebut<\/strong>.<\/p>\n<h2>Mengapa Banyak Tanaman Digunakan untuk Pakan?<\/h2>\n<p>Sekilas mungkin muncul pertanyaan:<\/p>\n<p><strong>Mengapa tanaman tidak langsung diberikan kepada manusia saja?<\/strong><\/p>\n<p>Jawabannya berkaitan dengan struktur sistem pangan.<\/p>\n<p>Manusia juga mengonsumsi daging, susu dan telur. Untuk menghasilkan produk tersebut, ternak membutuhkan pakan.<\/p>\n<p>Jagung dan bungkil kedelai menjadi dua bahan yang banyak digunakan karena menyediakan energi dan protein yang dibutuhkan ternak.<\/p>\n<p>Karena itu, sebenarnya terdapat hubungan:<\/p>\n<p><strong>Tanaman \u2192 Pakan \u2192 Ternak \u2192 Pangan Manusia<\/strong><\/p>\n<p>Semakin panjang rantainya, semakin banyak pula faktor yang harus diperhitungkan, mulai dari penggunaan lahan, air dan energi hingga efisiensi produksi.<\/p>\n<h2>Lalu, Apakah Penggunaan Tanaman untuk Pakan Itu Buruk?<\/h2>\n<p>Tidak tepat jika persoalannya disederhanakan menjadi baik atau buruk.<\/p>\n<p>Sistem peternakan juga menghasilkan pangan bernilai gizi, menyediakan mata pencaharian, serta dapat memanfaatkan biomassa dan hasil samping yang tidak selalu dapat dikonsumsi manusia.<\/p>\n<p>Namun proporsi tanaman yang masuk ke pakan tetap penting diperhatikan ketika membahas <strong>ketahanan pangan dan keberlanjutan sistem pertanian dunia<\/strong>.<\/p>\n<p>Pertanyaannya bukan hanya:<\/p>\n<blockquote><p><strong>\u201cBerapa banyak pangan yang kita produksi?\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p>Tetapi juga:<\/p>\n<blockquote><p><strong>\u201cKe mana hasil produksi itu digunakan dan seberapa efisien sumber daya yang kita gunakan?\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<h2>Pelajaran untuk Petani Indonesia<\/h2>\n<p>Konsep <em>multi-purpose commodities<\/em> sebenarnya sangat relevan bagi petani Indonesia.<\/p>\n<p>Petani tidak harus melihat hasil panen hanya sebagai satu produk.<\/p>\n<p>Misalnya:<\/p>\n<p><strong>Jagung<\/strong><br \/>\n\u2192 jagung segar<br \/>\n\u2192 pipilan kering<br \/>\n\u2192 pakan<br \/>\n\u2192 tepung<br \/>\n\u2192 produk olahan<\/p>\n<p><strong>Kelapa<\/strong><br \/>\n\u2192 kelapa segar<br \/>\n\u2192 santan<br \/>\n\u2192 minyak kelapa<br \/>\n\u2192 VCO<br \/>\n\u2192 gula kelapa<br \/>\n\u2192 produk turunan sabut dan tempurung<\/p>\n<p><strong>Singkong<\/strong><br \/>\n\u2192 singkong segar<br \/>\n\u2192 keripik<br \/>\n\u2192 tapioka<br \/>\n\u2192 pakan<br \/>\n\u2192 bahan industri<\/p>\n<p><strong>Padi<\/strong><br \/>\n\u2192 beras<br \/>\n\u2192 dedak<br \/>\n\u2192 sekam<br \/>\n\u2192 jerami<br \/>\n\u2192 kompos\/bahan organik<\/p>\n<p>Dengan cara berpikir seperti ini, pertanyaan petani berubah dari:<\/p>\n<p><strong>\u201cBerapa harga hasil panen saya?\u201d<\/strong><\/p>\n<p>menjadi:<\/p>\n<p><strong>\u201cPasar mana yang memberikan nilai terbaik untuk hasil panen saya?\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Dan itu merupakan perubahan penting dalam cara melihat agribisnis.<\/p>\n<h2>Budidaya Sebaiknya Dimulai dari Pasar<\/h2>\n<p>Selama ini sebagian usaha tani menggunakan pola:<\/p>\n<p><strong>tanam dahulu \u2192 panen \u2192 baru mencari pembeli.<\/strong><\/p>\n<p>Pendekatan agribisnis yang lebih baik adalah mulai membaca pasar sebelum menentukan produksi.<\/p>\n<p>Jika jagung akan masuk industri pakan, misalnya, standar yang dibutuhkan dapat berbeda dengan jagung untuk konsumsi segar.<\/p>\n<p>Begitu pula singkong untuk industri pati dapat memiliki kebutuhan berbeda dengan singkong untuk konsumsi rumah tangga.<\/p>\n<p>Karena itu, sebelum budidaya skala komersial, petani perlu mengetahui setidaknya <strong>siapa calon pembeli, varietas yang dibutuhkan, standar mutu, volume permintaan, jadwal pasokan, harga atau mekanisme penentuan harga, serta biaya pengiriman.<\/strong><\/p>\n<p>Dengan begitu, keputusan budidaya tidak hanya didasarkan pada kebiasaan.<\/p>\n<h2>Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Meningkatkan Produksi<\/h2>\n<p>Data penggunaan komoditas dunia memberikan pelajaran penting.<\/p>\n<p>Meningkatkan produksi memang penting. Tetapi produksi yang besar belum otomatis menjawab seluruh persoalan pangan.<\/p>\n<p>Kita juga harus memperhatikan <strong>distribusi, kehilangan hasil, penggunaan sebagai pakan, pemanfaatan untuk energi dan industri, akses masyarakat terhadap pangan, serta pendapatan petani.<\/strong><\/p>\n<p>Bahkan dalam satu komoditas, perubahan harga dapat memengaruhi banyak sektor sekaligus.<\/p>\n<p>Ketika harga jagung berubah, dampaknya tidak hanya dirasakan petani jagung. Industri pakan dapat terkena dampak, kemudian peternak ayam, lalu biaya produksi telur dan daging.<\/p>\n<p>Pertanian ternyata saling terhubung.<\/p>\n<h2>Dari \u201cTanaman Pangan\u201d Menuju \u201cKomoditas Bernilai\u201d<\/h2>\n<p>Bagi petani, salah satu pelajaran terbesar dari sistem pertanian dunia adalah jangan terlalu cepat membatasi sebuah tanaman berdasarkan satu kegunaan.<\/p>\n<p>Hasil pertanian dapat mempunyai banyak jalan menuju pasar.<\/p>\n<p>Sebagian menjadi makanan manusia.<\/p>\n<p>Sebagian menjadi pakan.<\/p>\n<p>Sebagian diolah.<\/p>\n<p>Sebagian menjadi bahan industri.<\/p>\n<p>Sebagian bahkan menjadi sumber energi.<\/p>\n<p>Semakin baik petani memahami rantai tersebut, semakin besar peluang untuk menentukan <strong>apa yang ditanam, untuk siapa produksinya, bagaimana standar mutunya, dan di mana nilai tambah dapat diperoleh.<\/strong><\/p>\n<blockquote><p><strong>Pertanian modern bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak. Pertanian juga tentang memahami ke mana hasil panen pergi dan bagaimana setiap bagian dari hasil tersebut dapat memberikan nilai.<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p><strong>PetaniPintar.id \u2013 Teman Pintar Petani<\/strong><\/p>\n<h3>Catatan sumber<\/h3>\n<p>Gagasan utama mengenai pembagian penggunaan komoditas pangan\/pakan dalam artikel ini mengacu pada grafik <strong>\u201cMajor agricultural flex crops by production and use, average 2017\u201319\u201d<\/strong> dalam <em>Meat Atlas 2021<\/em> yang diterbitkan Heinrich B\u00f6ll Stiftung bersama Friends of the Earth Europe dan BUND. Angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai gambaran penggunaan <strong>kelompok komoditas utama yang dianalisis<\/strong>, bukan berarti tepat 40% dari seluruh hasil pertanian dunia tanpa pengecualian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PetaniPintar.id \u2013 Teman Pintar Petani Ketika melihat hamparan jagung, kedelai, gandum, padi, atau tanaman umbi-umbian, kita mungkin berpikir sebagian besar hasil panennya akan berakhir di meja\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":84,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-79","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-praktis-budidaya"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia - Teman Petani Pintar<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia - Teman Petani Pintar\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"PetaniPintar.id \u2013 Teman Pintar Petani Ketika melihat hamparan jagung, kedelai, gandum, padi, atau tanaman umbi-umbian, kita mungkin berpikir sebagian besar hasil panennya akan berakhir di meja\u2026\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Teman Petani Pintar\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-06T20:30:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-06T22:28:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/petanipintar.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34-709x1024.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"709\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e2ec4483901a617f504ef472e1b2e815\"},\"headline\":\"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia\",\"datePublished\":\"2026-07-06T20:30:57+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-06T22:28:54+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79\"},\"wordCount\":1369,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png\",\"articleSection\":[\"Praktis Budidaya\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79\",\"name\":\"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia - Teman Petani Pintar\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png\",\"datePublished\":\"2026-07-06T20:30:57+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-06T22:28:54+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e2ec4483901a617f504ef472e1b2e815\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png\",\"width\":1044,\"height\":1507},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?p=79#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/\",\"name\":\"Teman Petani Pintar\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e2ec4483901a617f504ef472e1b2e815\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/527b00424f5110f7aa6862edbf6afb02bf4ec60f6b976642611187b797d2dd17?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/527b00424f5110f7aa6862edbf6afb02bf4ec60f6b976642611187b797d2dd17?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/527b00424f5110f7aa6862edbf6afb02bf4ec60f6b976642611187b797d2dd17?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/petanipintar.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia - Teman Petani Pintar","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia - Teman Petani Pintar","og_description":"PetaniPintar.id \u2013 Teman Pintar Petani Ketika melihat hamparan jagung, kedelai, gandum, padi, atau tanaman umbi-umbian, kita mungkin berpikir sebagian besar hasil panennya akan berakhir di meja\u2026","og_url":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79","og_site_name":"Teman Petani Pintar","article_published_time":"2026-07-06T20:30:57+00:00","article_modified_time":"2026-09-06T22:28:54+00:00","og_image":[{"width":709,"height":1024,"url":"https:\/\/petanipintar.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34-709x1024.png","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/#\/schema\/person\/e2ec4483901a617f504ef472e1b2e815"},"headline":"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia","datePublished":"2026-07-06T20:30:57+00:00","dateModified":"2026-09-06T22:28:54+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79"},"wordCount":1369,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/petanipintar.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png","articleSection":["Praktis Budidaya"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79","url":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79","name":"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia - Teman Petani Pintar","isPartOf":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/petanipintar.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png","datePublished":"2026-07-06T20:30:57+00:00","dateModified":"2026-09-06T22:28:54+00:00","author":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/#\/schema\/person\/e2ec4483901a617f504ef472e1b2e815"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/petanipintar.id\/?p=79"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#primaryimage","url":"https:\/\/petanipintar.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png","contentUrl":"https:\/\/petanipintar.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-7-Sep-2026-03.36.34.png","width":1044,"height":1507},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/?p=79#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/petanipintar.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Praktis Budidaya Komoditas Pangan Dunia, Ketika Hasil Pertanian Tidak Hanya Menjadi Makanan Manusia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/#website","url":"https:\/\/petanipintar.id\/","name":"Teman Petani Pintar","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/petanipintar.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/petanipintar.id\/#\/schema\/person\/e2ec4483901a617f504ef472e1b2e815","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/527b00424f5110f7aa6862edbf6afb02bf4ec60f6b976642611187b797d2dd17?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/527b00424f5110f7aa6862edbf6afb02bf4ec60f6b976642611187b797d2dd17?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/527b00424f5110f7aa6862edbf6afb02bf4ec60f6b976642611187b797d2dd17?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/petanipintar.id"],"url":"https:\/\/petanipintar.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=79"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79\/revisions\/85"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/84"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=79"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=79"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/petanipintar.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=79"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}